Arsip Blog

Tampilkan postingan dengan label instrumen musik aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label instrumen musik aceh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Oktober 2020

Seniman Aceh ?

 


Kata “seni” merupakan yang berasal dari bahasa Melayu. Kata itu punya arti “halus”, “kecil”, “tipis “lembut”. Pengunaan dalam bahasa Melayu menyebutkan “air seni”, maka artinya air kencing. sebab hajat “ungkapan seni” berati buang air kecil alias kencing terkadang masih lazim digunakan pada bidang kedokteran. Kata “seni” yang kita pakai sekarang ini sebagai terjemahan dari “art” (Inggris) baru muncul pada tanggal 10 april 1935 dalam majalah kebudayaan Pujangga baru yang terbit pada tahun1933.[1]

kata “seni” berasal dari konsep barat dalam sejarah kebudayaan barat sendiri pengertian “seni” itu berubah-ubah sesuai dengan zamannya. Pengertian zaman Yunani berbeda dengan pengertian seni dalam abad pertengahan. Berbeda pula dengan zaman awal moderen barat. Yakni ranaissance, berbeda dengan zaman rasionalisme abad 17-18 ,dan berbeda dengan zaman romantik abad IXX. Di abad IXX, kebudayaan barat mengevaluasi kembali semua pengertian seni dalam sejarahnya.[2] Masyarakat Indonesia modern mengadopsi pengertian “seni” dari barat. karena pemahaman tentang “seni”  di barat sendiri juga mengalami perkembangan dalam sejarahnya, maka masyarakat modern Indonesia  tidak mempunyai keseragaman dalam pemahaman seni baratnya. Era jaman pujangga baru tahun 1930an misalnya, konsep seni sastra modern mengacu kepada romantisme, tapi dalam seni lukis sudah mengacu kepada ekspresionis, dan dalam teather masih berkutat pada “realisme dardanella”. seni arsitektur art deco.

Seni bagian intelektual manusia yang di tuangkan ke dalam suatu bentuk. Sebagai manusia yang memuliki intelektual tentu kita punya etika intelektual pula. Seni yang memiliki intlektual Untuk berbeda adalah salah satu etika kita. menghormati dan menghargai yang berbeda dengan kita adalah etika. Kita tidak pernah semena-mena terhadap yang berbeda dengan cara kita. Perbedaan itu kebebasan. Kalau ingin dihargai kebebasan kita, maka kita harus menghargai kebebasan orang lain. Karya seni masa lampau yang berbeda dengan kesenian kita itu selayaknya mendapatkan penghargaan pula. Maka, di dalam seni mengaktualisasikan sesuatu yang berbeda memiliki hak prerogratif seseorang. Tinggal kita melihat etika tersebut sesuai dengan norma yang berlaku, terkhusus dalam peradaaban islam etika serta ketauhidan sangat menjadi perhatian utama.

Bagaimana cara menghargainya. Sikap untuk memahami hubungan antara teks seni itu dengan konteksnya sendiri. Kita kembalikan benda-benda seni pada cara berfikir masyarakat yang dahulu memproduksinya. Karena setiap benda budaya, termasuk artefak seni, diproduksi masyarkatnya, karena punya fungsi dalam kehidupan mereka. Fungsi seni bagi mereka mungkin sama sekali berbeda dengan seni buat kehidupan kita di masa sekarang. Dengan demikian, pertama-tama kita harus mengetahui apa fungsi benda yang kita sebut “seni” bagi masyarkat-masyarakat di masa lampau.

Fungsi seni itu masih kita dapatkan hidup di tengah-tengah kita sekarang ini, karena masyarkat pendukungnya masih ada. Apa yang kita sebut sebagai “seni tradisional” itu masih di fungsikan sebagai dari bagian upacara “selawatan”. Dapat dipahami juga seni itu merupakan acara itu sendiri. Karena fungsinya bagian dari adat, maka simbol-simbol seni yang ada di dalanya tentu berhubungan dengan sistem religi kepercayaan mereka. Langkah lebih lanjut adalah memahami sitem religi mereka itu. Dari mana kita dapatkan. masyarakat yang masih memfungsikanya, atau dari artefak seni itu sendiri dengan cara membandingkanya dengan artefak yang lain dari konteks budaya zaman yang lain

benda seni Memang tidak semuanya berfungsi relegius. Banyak benda-benda seni untuk kepentingan sekuler pula. Yang membedakan hanya proses pembuatannya saja. Benda-benda seni yang dipergunakan untuk upacara ternyata mempunyai proses pembuatan yang sifatnya juga ritual. Sedang benda-banda yang sama untuk kepentingan sekuler tidak diproses dengan upacara. Karena bentuknya sama, maka kita dapat membaca simbol-simbol religi pada seni upacara, maupun seni sekulernya. Pemikiran religius ini disusun dari mitos-mitos, penciptaan semesta mereka, bangunan rumah mereka, ragam hias tenun mereka, upacara-upacara adat, susunan perkampungan mereka, hukum adat mereka, perahu, alam tinggal mereka, iklim dan kesenian mereka, baik seni rupa, seni musik ,teather dan sastra. Semakin banyak artefak yang dapat dikumpulkan, semakin lengkaplah kemungkinan rekontruksi bangunan ideal-rasional mereka tentang makna hidup ini.

Jacob sumardjo  menggambarkan Masyarkat pengguna benda-benda seni teradisional itu jauh berubah cara berpikinya dengan benda-benda seni yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Benar, mereka masih memfungsikan benda-benda itu secara tradisional. Tetapi, sistem pengetahuan tradisionalnya telah lama hilang bersama waktu. masyarakat moderen Indonesia memang berbeda sekali dengan nenek moyang kita yang pra-modern. Pola berpikir yang digunaka secara ontologis, selalu membuat jarak dengan objek pengetahuan kita. Pengetahuan bagi kita adalah pengetahuan yang dapat dibuktikan dengan secara empiris dan secara rasional-logis. Sedangkan epistimologi indonesia pra-modern tidak membedakan adanya dualisme objek-subjek. Manusia bukan bagian terpisah dan dalam posisi menghadapi apa saja yang berada diluar dirinya disebut subjek. Fikiran pra-modern adalah pemikiran totalistas-holistis yang menyamakan subjek dengan objeknya. Manusia itu hanya bagian saja dari alam dan semua yang ada. Mikro kosmos manusia itu adalah makro kosmos semesta dan bagian puladari sebuah meta kosmos. Inilah cara berfikir monistik. Segalanya adalah tunggal

Pengetahuan tertinggi manusia Indonesia pra-moderen itu pengetahuan memiliki penyatuan dengan totalitas. Maka, dengan sendirinya ini bersifat sangat subjektif berdasarkan keyakinan,iman itu mendahuli pengatahuan. Siapa mengimani akan mengalami, dan yang mengalami akan mengetahui. Itulah sebabnya laku mendahului ilmu, atau ilmu ini terjadi lewat laku atau perbuatan, dan pengalaman, yang dimaksudkan adalah pengalaman mistis, penyatuan dengan hakikat ada. Sedangkan kita manusia modern pertama-tama menjawab partanyaan “apa”, “objek pengetahuan” harus dapat dicerna oleh akal dulu. Baru dapat melanjutkan “bagaimana”-nya “apa” itu, dan akhirnya mencari pengetahuan tentang “mengapa”nya “apa” tadi. Dalam pikiran primodial Indonesia, pengetahuan serupa ini hanya tingkat dua setelah epistemilogi. Intelektual sejati masyarakat pra-modern Indonesia adalah orang-orang yang telah mencapai pengalaman dan pengetahuan ide secara imajinasi. Ulama, syech, empu, pujanggga, utoh, adalah pemilik pengetahuan sejati, jadi puncak intelektualitas telah melekat pada mereka.

Benda-benda seni tradisional itu mengandung aspek-aspek ideal-irasionalnya pula yang berupa pola, dan struktur. Pola semacam ini pula muncul dalam karya seniman Amerika, Paul Klee, yang pada tahun 1924 mengumumkan gambar pohon yang mengambarkan transformasi pencipataan, berangkat dari nature menuju culture , yang bisa terjadi di bidang apa saja, termasuk seni ukir rumah Aceh, rencong, atau kupiah meuketop yang juga merupakan struktur transformasi secar religius, yakni bagaimana seorang manusia dapat mentranformasi diri menuju tingkat-tingkat rohani monistik atas.

            Kata seniman yang dipahami pada era moderen merupakan orang yang memiliki karya, beserta orang yang dibutuhkan dan juga dianggap orang marjinal di dalam masyarakat. pandangan masyarakat dengan seorang seniman yang memiliki gaya nyeleneh, rambu gondrong, hingga kata-kata yang tidak dimengerti, melekat pada masyarakat Aceh. Profesi seniman memiliki nilai tawar yang sangat rendah dalam kedudukan masyarakat Aceh. Adanya seperti pengasingan diri terhadap antara seniman dan masyarakat aceh, akan tetapi seniman orang yang diperlukan sebagai bagian dari menghibur kepenatan atau kegundahan mereka pada kesehariannya. Perhatian posisi seniman juga tidak menjadi bagian yang diberdayakan oleh pihak pemerintah sebagai upaya peningkatan mutu pariwisata Aceh serta pengetahuan.

            Edukasi seni di dalam masyarakat Aceh memiliki fase yang sangat lambat dan terabaikan. Seperti yang telah dijadikan tolak ukur pada era glaobalisasi ini seni merupakan bagian suatu pradaban intelektual. Sehingga beberapa seniman mencoba untuk mengikuti common sense (logika) industrial atau mengcover musik-musik yang di luar dari etika ke-Acehan. Seni yang berkembang di Aceh pada era ini telah memasuki sikap profan tidak ada keterkaitan dengan spiritualitas. Hal ini, sangat menghawatirkan pada generasi Aceh kedepannya.

            Seniman merupakan kepribadian yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Karena, seni itu berasal dari kata halus atau kecil, maka setiap orang yang telah yang telah melakukan aktifitas tersebut telah di sebut dengan seniman. Namun ada beberapa ketentuan yang perlu di sepakati tinggkatan sebagai seorang seniman murni atau terinfluens dalam dunia seni. Terlalu sangat merugikan untuk mengasingkan seniman di dalam masyarakat. karena apabila seni tidak melekat pada seseorang maka akan terjadi ketidak seimbangan antara sikap dan prilaku. Kekakuan serta kekerasan dalam menjalani hidup. Sudah saatnya seni melekat pada masyarakat Aceh agar para seniman dapat tumbuh subur di aceh dan membumikan seniman. Seniman bukanlah orang yang sangat suci yang memiliki gelar yang sangat berat ataupun orang yang sanga terasing, melainkan seniaman orang yang dapat menuangkan imajinasi denga intelektualnya ke dalam suatu karya. Selain dari itu juga dapat memperindah khasanah perkembangan pembangunan Aceh kedepanya. Namun, tidak luput dari nilai-nilai Islami serta memberikan inspirasi yang membangun. Seniman tanpa masyarakat tak berharga namun masyarkat tanpa seniman akan tersa hambar.

 Wallahu'alam Bissawab.

Penulis: Rudi Asman, S.Sn.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ismail Raji Al Faruqi, Seni tauhid Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, Yogyakarta: Bentang Budaya.

Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat : Edisi Paripurna. Yogyakarta: Tiara Wacana

Sumardjo, Jacob. 2006. Estetika Paradoks. Bandung : Sunan Ambu Press

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] lihat karangan Paul Oskar Kristeller, “the modern system of the art” dalam buku W.E. kennick, art and philosophi: reading in Aetethics (New York St. Martin’s Press, 1979). Ia menunjukan parkembangan apa yang disebut seni dalam masyarakat barat, mulai dari yaunani konosampai pda abad 20. Ada garis tetap yang di pertahankan

[2] pada tahun 1936, sultan takdir Alisjahbana, dalam majalahnya pujangga baru menulis sajak berjudul “sesudah dibajak”, yang bait pertamanya berbunyi sebagai berikut.

Aku merasa bajakMu menyayat

Sedih seni mengiris kalbu

Pedih pilu jiwa mengaduh

Gemetar mengigil tulang seluruh

 .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Minggu, 15 September 2019

Definisi Serune Kalee Aceh





Instrumen serune kalee dikenal dan tersebar di wilayah masyarakat Aceh Utara, Pidie, Lhoksumawe, Aceh Besar, dan Aceh Barat.[1] Hasil pengamatan selama di lapangan ditemukan bahwa serune kalee merupakan dua kata terpisah terdiri dari serune dan kalee. Kata serune pada umumnya digunakan penyebutan alat tiup yang menggunakan lidah (reed) dan menggunakan daun lontar sebagai sumber bunyi atau bambu.[2] Penyebutan kata serune banyak digunakan oleh masyarakat nusantara seperti, serune (Mandailing) [3], sarune bolon (Batak Toba), sarunai kayu (Padang)[4], sarunai (Riau)[5] atau serune (Sumbawa). Meskipun, asal kata serune ini belum ada yang memastikan apakah berdasarkan dari perbendaharaan kata Melayu. Namun, masyarakat Turki memiliki instrumen yang sama dengan penyebutan dengan Zurna dan masyarakat Kashmir menyebut instrumen tersebut dengan Sor-nai. Berdasarkan dari catatan bahwa Aceh merupakan daerah yang banyak didatangi oleh para pendatang asing yang juga menetap sehingga alat tersebut ada perubahan penyebutan dengan bahasa Melayu dan instrumen yang  diperkenalkan  oleh  para pendakwah Islam. Berdasarkan sumber buku kamus Aceh menjelaskan bahwa, Serune (serunai) memiliki arti seruling padi.[6] Kalee dalam bahasa Aceh memiliki arti umpama bernyanyi atau menari dengan berbagai cara (jakalee ).[7] Maka, serune kalee memiliki arti seruling bernyanyi atau menari.
Seorang pemain serune kalee Aceh bernama Ismail Sarong (B Ma’e) mengisahkan tentang terjadinya penamaan serune kalee. Dikisahkan Ada dua orang yang sedang mengerjakan serune, namun salah seorang temannya selama pengerjaan tersebut memiliki keperluan mendadak untuk pergi mengurusi urusan yang lain, di lain sisi harus menyelesaikan serune tersebut dan salah seorang diantaranya, berkata pada temannya “kah kalee ile siat barang nyoe” (tolong kamu selesaikan” barang/serune ini” semenjak itulah instrumen tiup tersebut diberi nama serune kalee.[8] 
Serune kalee dikenal sebagai instrumen dan juga dikenal sebagai kelompok pemain musik yang dilakukan secara ansambel yang terdiri dari serune kelee, rapa’i, dan geundrang. Kedudukan serune kalee dalam ansambel Aceh (rapa’i dan geundrang) merupakan penentu jalannya pertunjukan. Penampilan serune kalee diawali dengan musik rall (intro lagu), setelah si peniup telah cukup memberikan suasana lagu yang akan dibawakan si peniup memainkan melodi akhir lagu sebagai pertanda tempo yang mesti dimainkan beserta motif ritmis untuk penabuh ritmis. Kelompok peniup serune kalee pada dasarnya merupakan teman  kenalan yang sudah pernah melakukan latihan, sehingga motif dan tempo yang dibutuhkan oleh peniup serune kalee  telah di ketahui oleh penabuh ritmis, maka sering diucapkan oleh para pemain serune kalee. “Serune kalee  ibarat Raja, maka ikutilah apa yang diperintahkan Raja kalian”.
Berdasarkan penjelasan di atas, penamaan serune kelee diduga memiliki percampuran pangucapan bahasa yang dibawa oleh bangsa timur saat memasuki Aceh. Namun, masyarakat Aceh telah menyebut serune kalee sebagai seruling bernyanyi atau menari. Walaupun, seorang dari pelaku serune memiliki kisah yang berbeda dalam penamaan serune kalee. Namun, sampai saat ini belum ada yang dapat membuktikan kebenaran kisah tersebut. Serune kalee dapat dipahami sebagai instrumen serta juga kelompok bermain musik secara ansambel.           


[1]Isjkarim, “Kesenian Tradisional Aceh”, hasil lokakarya 4/8 Januari 1981 di Banda Aceh (Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh,1981), 60.
[2]Margaret Kartomi, Musical Journeys in Sumatra  (United Stateof America: University of Illinois press, 2012), 65.
[3]Kartomi, 271.
[4]Kartomi, 65.
[5]Kartomi,126.
[6]Aboe Bakar, Kamus Bahasa Aceh-Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka  2001), 367.
[7]Bakar, 873.
[8]Wawancara dengan Dedy “Kalee” Afriadi tanggal 25 April 2016 di rumahnya, diijinkan untuk dikutip.

Kumpulan Metode Penelitian untuk Musik Aceh

  Klasifikasi merupakan mengenal ciri khas atau pembagian kelompok permasalahan   dari suatu objek sehingga kita akan menjadikan objek ter...

popular post